KONSULTASI
Logo

Harga TBS Diproyeksi Melemah 4 Pekan ke Depan, Plasma Turun ke Rp3.521/Kg

10 Agustus 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Harga TBS Diproyeksi Melemah 4 Pekan ke Depan, Plasma Turun ke Rp3.521/Kg

sawitsetara.co - PEKANBARU — Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit diproyeksikan masih menghadapi tekanan dalam empat pekan ke depan. Laporan Harga TBS Kelapa Sawit Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) periode 3–9 Agustus 2026 memperkirakan harga TBS skema plasma cenderung melemah sekitar 0,6 persen.

Berdasarkan proyeksi tersebut, rata-rata harga TBS plasma diperkirakan berada di level Rp3.507 per kilogram pada pekan pertama. Harga kemudian diproyeksikan bergerak menjadi Rp3.512 per kilogram pada pekan kedua, Rp3.517 per kilogram pada pekan ketiga, dan Rp3.521 per kilogram pada pekan keempat.

Meski secara nominal proyeksi menunjukkan kenaikan bertahap dari pekan pertama hingga pekan keempat, APKASINDO menyebut arah tren harga dalam empat pekan ke depan cenderung turun sekitar 0,6 persen. Proyeksi tersebut bersifat statistik dan indikatif, bukan jaminan harga.

Sementara itu, harga TBS petani swadaya diproyeksikan berada di level Rp2.970 per kilogram pada pekan pertama. Harga kemudian diperkirakan meningkat menjadi Rp2.978 per kilogram pada pekan kedua, Rp2.986 per kilogram pada pekan ketiga, dan Rp2.992 per kilogram pada pekan keempat.

Proyeksi ini muncul setelah pada periode 3–9 Agustus 2026 rata-rata harga TBS plasma di 22 provinsi tercatat Rp3.542 per kilogram. Angka tersebut naik Rp21 per kilogram atau 0,6 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Berbeda dengan plasma, rata-rata harga TBS swadaya justru turun Rp68 per kilogram atau 2,2 persen menjadi Rp2.982 per kilogram. Dengan demikian, terdapat selisih rata-rata Rp560 per kilogram antara harga TBS plasma dan swadaya.

DPP

Harga TBS Masih di Atas Estimasi Paritas

Dalam laporan yang sama, APKASINDO mencatat estimasi paritas TBS berada di level Rp2.786 per kilogram. Angka tersebut dihitung berdasarkan harga tender CPO KPBN domestik, rendemen 21 persen, dan indeks K 85 persen.

Jika dibandingkan dengan angka indikatif tersebut, rata-rata harga TBS plasma sebesar Rp3.542 per kilogram berada 27,1 persen lebih tinggi. Adapun rata-rata harga TBS swadaya Rp2.982 per kilogram berada 7 persen di atas estimasi paritas.

Laporan APKASINDO menyebut estimasi tersebut merupakan bahan telaah. Untuk skema plasma, pola perhitungannya mengikuti rumus Permentan Nomor 13 Tahun 2024. Sementara harga TBS petani swadaya tidak diatur oleh regulasi sehingga angka paritas untuk skema tersebut hanya digunakan sebagai perhitungan umum.

Dari sisi pasar CPO, laporan mencatat harga CPO Indonesia berdasarkan KPBN berada pada Rp15.607 per kilogram. Harga CPO Bursa ICDX tercatat Rp16.135 per kilogram, sedangkan harga CPO Malaysia setara Rp19.824 per kilogram dan CPO CIF Rotterdam mencapai Rp29.019 per kilogram.

APKASINDO mengingatkan proyeksi harga TBS perlu dibaca sebagai indikasi arah, bukan angka pasti. Berdasarkan uji balik delapan pekan terakhir, prediksi satu pekan rata-rata memiliki selisih sekitar Rp42 per kilogram dari harga riil.

Harga TBS resmi sendiri tetap ditetapkan setiap pekan oleh Tim Penetapan Harga TBS Dinas Perkebunan provinsi dan dipengaruhi antara lain oleh harga CPO dunia, kurs, rendemen, serta kebijakan pemerintah. Perbedaan antara harga penetapan dan harga yang diterima petani di tingkat pabrik juga dapat terjadi karena faktor rendemen, jarak angkut, mutu buah, dan umur tanaman.

Informasi lebih lengkap terkait harga TBS sawit nasional, silakan klik tautan berikut: hargasawitindonesia.id.

Tags:

harga TBSBerita SawitSawit

Berita Sebelumnya
Sekda Riau Sebut Produktivitas Jadi Kunci Transformasi Industri Sawit, Hilirisasi Tak Cukup Hanya Bangun Pabrik

Sekda Riau Sebut Produktivitas Jadi Kunci Transformasi Industri Sawit, Hilirisasi Tak Cukup Hanya Bangun Pabrik

Pemerintah Provinsi Riau mendorong peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit sebagai salah satu kunci memperkuat industri sawit tanpa harus membuka lahan baru. Di sisi lain, industrialisasi sawit dinilai tidak cukup hanya dengan membangun pabrik, tetapi harus ditopang ekosistem yang kuat dari hulu hingga hilir.

8 Agustus 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *